Hiruk Pikuk Covid-19

Sebelum wabah covid-19 ini merebak masuk ke Indonesia, Saya sudah sempat membuat postingan untuk menginformasikan wabah ini. Kita semua berharap agar wabah ini tidak masuk ke Indonesia. Karena seperti yang kita tahu bahwa virus ini penyebarannya begitu cepat. Memang bukan virus yang sangat mematikan, tapi permasalahannya virus ini belum ada penangkalnya. Kita hanya dapat berharap dari sistem imun tubuh kita dan tentunya  rahmat dari Allah sebagai upaya pencegahan.

Casa Nueva : Bersama Lingon

Berawal dari Saya dan sahabat Saya, Mas Bimo ingin memiliki usaha di bidang clothing atau apparel. Mimpi kami untuk berbisnis sudah terdorong sejak kami SMP. Bisa dibilang Saya dan Mas Bimo ini memiliki visi dan pandangan yang sama. Sampai akhirnya kami bertemu lagi setelah lulus SMA. Allah mengatur semuanya dengan indah. Saya yang entah bagaimana terpikir untuk memulai bisnis kulit dipertemukan kembali dengan Mas Bimo dengan maksud yang sama.

Oktagon : Selamat Tinggal Jakarta

Hari yang ditunggu akhirnya datang. Persiapan Saya sudah lengkap. Saya berangkat pagi sekitar jam delapan, karena Saya harus ke kampus terlebih dahulu mengurus kode biling untuk daftar ulang semester baru. Saya sengaja menyediakan waktu luang dua jam sebelum keberangkatan agar tidak mengganggu rencana. Di aula, Arby sudah datang terlebih dulu. Setelah mengurus kode biling, Saya kembali ke aula. Di sana sudah ada Fadli dan Arby.

Casa Nueva : What Happened?

Setelah Saya berpisah dengan para perjaka itu, keesokannya Mas Bimo sudah siap dengan planning list destinasi wisata yang akan kami tuju. Ada dua plan yang telah Mas Bimo siapkan. Pilihannya ialah menikmati bentangan laut di atas canoe atau merasakan sensasi off road jalur Merapi dengan jeep. Ternyata semalaman sebelum kami istirahat, ia membuat planning list itu dengan ayahnya. Mas Bimo ini memang tidak main-main menjamu teman-temannya. He is a truly man.

Oktagon : Yogya Bukan Wacana

Matahari di atas kepala, teriknya menancap ke ubun-ubun. Jalan Raya Bogor masih ramai. Knalpot motor terus menyemburkan gas karbonnya. Biru cerah langit Jakarta saat itu, tidak terlihat sedikit pun gumpalan awan di langit. Berarti menandakan bahwa Allah belum merencanakan untuk mengguyur Jakarta dengan hujan. Mau tidak mau, suka tidak suka Saya harus terus berjalan menuju kampus. Sesampainya, buru-buru Saya mencari kelas untuk ngadem di depan AC. Ahh... Sejuknya.